TANGERANG - Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, diduga dipicu oleh lemahnya pengawasan dan pengelolaan sampah di lokasi tersebut. Peristiwa ini kembali menjadi sorotan publik karena berulangnya kejadian kebakaran di kawasan penampungan sampah yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Asap tebal membumbung tinggi dari area gunungan sampah dan terlihat dari jarak yang cukup jauh.

Untuk menangani kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Tangerang mengerahkan enam unit mobil pemadam kebakaran dan 30 personel ke lokasi guna melakukan upaya pemadaman serta mencegah meluasnya api ke wilayah lainnya.

“Untuk saat ini masih dalam penanganan,” ujar petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Tangerang saat dikonfirmasi.

Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi menghadapi kendala yang cukup berat karena titik api berada di tengah tumpukan sampah dengan kedalaman tertentu. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memastikan api benar-benar padam.

Berdasarkan rekaman video yang diterima dari Pusdalops BPBD, terlihat kobaran api muncul dari area gunungan sampah disertai kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi ke udara. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan dampak pencemaran udara bagi masyarakat di sekitar lokasi.

Menangapi peristiwa tersebut, Pemerhati Kebijakan Lingkungan, Nurdin Kurniawan, SH, menilai kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa. Menurutnya, kejadian tersebut merupakan indikasi adanya permasalahan dalam sistem pengelolaan dan pengawasan sampah yang harus segera dievaluasi.

"Pembakaran di TPA bukan hanya masalah teknis pemadaman api. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan, pengelolaan, dan mitigasi risiko di lokasi pembuangan sampah. Pemerintah daerah harus melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang," tegas Nurdin.

Ia menjelaskan, tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menghasilkan gas metana yang mudah terbakar, terutama saat cuaca panas dan kondisi sampah mengering. Oleh karena itu, pengawasan rutin serta penerapan sistem pengelolaan yang sesuai standar menjadi hal yang sangat penting.